Thursday, July 16, 2009

A Long Journey to Gambir

Nekat si emang boleh, tapi jangan nekat banget ya. Soalnya bisa-bisa jadi anak hilang.

Kami, mantan anak kelas 11 cewek, memang nggak beruntung karena harus ngurus camp sendirian tanpa adanya wali kelas. Bahkan untuk beli tiket kereta aja kami harus beli sendiri. Akhirnya aku dan Dian menawarkan diri untuk membeli tiket. Rencananya kami pengen sekalian jalan-jalan habis beli tiket, tapi ternyata kami salah duga!!!

Sehabis zuhur, kami bersiap berangkat setelah dinasihati banyak hal. Tentu aja kami izin sama Miss-Rose-sayang dulu sebelum berangkat. Kami berangkat naik bis trans yang baru pertama kalinya. Kami juga udah nanya jalurnya sama orang yang udah pengalaman (mamanya Heidy). Tak taunya, kami ketemu sama Pak Mus yang juga mau ngurus camp. Trus cerita-cerita jalur bis trans yang udah beliau ketahui. Waktu itu kami masih belum dapat tempat duduk. Jadi harus bergelantungan. Setelah lebih dari 1 jam berdiri, akhirnya kami dapat tempat dudu (akhirnya!).

Beberapa kali kami nanya sama penumpang cara ke stasiun. Akhirnya kami memutuskan turun di Harmoni. Ketika masuk halte kami lihat antrian super panjang di sebelah kanan kami. Lalu aku bilang, “Kasian ya yang ngantri. Mesti lama banget nunggunya.” Kami cuma ketawa-ketawa. Trus kami bingung gara-gara nggak ada tulisan ke stasiun. Kami bertanya pada petugas kebersihan yang jawabannya membuat kami menelan ludah, “Lha itu Mbak yang pada ngantri itu!” Katanya sambil menunjuk antrian super panjang itu. Kayaknya kami kualat gara-gara ngetawain orang-orang yang antri. (waduh...)

Untunglah parahnya antrian itu nggak berlangsung cukup lama soalnya banyak bis yang berdatangan (yei!!!). Kami dapet tempat duduk dan akhirnya ngobrol sambil bisik-bisik. Setelah berputar-putar tak tahu arah dan daerah, bis mulai mendekati Monas. Untunglah, karena Gambir berada di belakangnya (atau Monas ada di belakang Gambir??). Sewaktu turun, kami langsung melihat jam, pukul 15.00.

Buru-buru kami ke loket dan ikutan antri. Cukup panjang antriannya. Ketika kami makin dekat, aku kaget melihat tulisan “Satu orang maksimum 2 tiket”. Aku dan Dian saling pandang. Padahal kami bakal beli buat 12 orang. Gimana caranya? Masa ngantri trus ngantri lagi sampai 3 kali?? Akhirnya kami memutuskan untuk berdiskusi dengan penjual tiket dan mempersilakan orang di belakang kami untuk membeli lebih dahulu. Pas udah nggak ada orang di belakang kami, dengan ragu kami melangkah mendekati loket.

Aku lupa gimana percakapan yang terjadi di antara kami, tapi Mbak penjual tiketnya bilang, kalo kami harus ke loket pemesanan di sebelah utara. Jadi maksud sebetulnya kami salah ngantri! Kami merasa lega, tapi juga malu (sotoy sih...). Sambil tertawa kami berjalan ke utara, ke loket pemesanan. Saat melihat loket kosong, kami langsung mendekat dengan pe-de nya. Ternyata kami harus ngisi kertas pemesanan lebih dahulu yang tersedia di meja belakang kami. Masih sambil ketawa malu, kami ngisi kertas pemesanan dan ngasih kertasnya ke Mbak petugas. Kami juga membayar dengan uang yang sangat pas yang udah dihitung di asrama. Ditulis lagi jumlah uangnya yang bikin Mbak petugasnya ngetawain kami.

Habis itu kami langsung jalan keluar stasiun dan agak nggak percaya kalo cuma butuh kurang dari 10 menit buat beli tiket!!! Padahal perjalanan buat sampai ke sana hampir 3 jam. Kami sempat berencana tetep jalan-jalan dulu sebelum pulang, tapi kami mengurungkan niat kami. Kami juga berencana makan, tapi nggak jadi kerena banyak banget yang nawarin. Dengan kelaparan karena emang belum makan dari pagi, akhirnya kami naik bis dari halte belakang stasiun.

Yah, mungkin karena kesotoyan kami (aku sih,) yang parah banget itu, akhirnya kami muter-muter di daerah stasiun selama 1 jam! Kami pun pasrah. Entah jam berapa, kami sampai di Harmoni dan langsung naik ke bis trans jalur Lebakbulus. Tak tahunya bus yang kami tumpangi adalah bus yang sama kayak bus pas kami berangkat. Kami sempet kepikiran buat mampir ke PIM, tapi nggak jadi.

Kami sampai di Lebak Bulus jam 6 sore. Sebelum pulang ke asrama kami sempat mampir ke warung makan. Habis itu pun kami ke indomaret dulu cuma buat iseng. Hohoho.... Jam 8 malam kami berdua baru sampai di asrama dan langsung berhadapan dengan Miss Rose. Beruntung sekali kami nggak ditanya-tanya tentang keterlambatan kami. Kami cuma bilang kalo kami nyasar, dan emang bener kami nyasar. Hahaha…. Pengalaman yang penuh kesotoyan dan melelahkan…. ^.^"


nuzuli


0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home